Khutbah
Jum’at
Pancasila,
Persaudaraan dan Nilai Kebangsaan
Khutbah I
اَلْحَمْدُ
لِلَّهِ الَّذِيْ أخْرَجَ نَتَائِجَ أفْكاَرِنَا لِإِبْرَازِ أَيَاتِهِ وَالَّذِيْ
أفْضَلَنَا بِالْعِلْمِ وَاْلعَمَلِ عَلَى سَائِرِ مَخْلُوْقَاتِهِ ، أَشْهَدُ أنْ
لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَالصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلىَ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ يُمْلَئُ
بِجَمِيْعِ اْلفَضَائِلِ ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ وَعِتْرَتِهِ
الطَّاهِرِيْنَ إلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ اْلقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى
وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ
اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Hadirin Jama’ah Jum’ah rohimakumullah...
Pada kesempatan khotbah ini saya
mengajak hadirin sekalian terutama pada diri saya sendiri khususnya untuk
senantiasa bertaqwa kepada Allah swt. dan terus menerus berusaha meningkatkan
ketakwaan itu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya serta mensyukuri semua
kenikmatan dan karunia yang diberikan kepada kita dengan menggunakan dan
menyalurkannya pada jalan yang diridhai oleh-Nya. Dengan demikian semoga kita
senantiasa mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hadirin Jama’ah Jum’ah yang dirahmati
Allah...
Kali ini saya ingin mengajak saudara
seiman setaqwa dan sebangsa senegara untuk mengingat kembali sejarah berdirinya
Negara tercinta Republik Indonesia. Sejatinya Indonesia bukanlah bangsa baru
yang tiba-tiba ada semenjak 17 Agustus 1945. Bukan pula sebuah negara yang
tiba-tiba ada begitu saja dengan nama Indonesia. Akan tetapi, negara ini
merupakan negara yang dibangun di atas sejarah panjang, sejarah kerajaan
Sriwijaya, Majapahit, dan juga Kerajaan Islam yang terbentang dari Samudra
pasai, Demak hingga Mataram Islam.
Dengan demikian sudah berabad-abad
Indonesia di bangun oleh nenek moyang kita. Sudah cukup panjang tinta sejarah
mengukir Indonesia. Sejarah itu pula yang akhirnya menuntun para kyai, pejuang
dan juga rakyat ini memilih Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.
Oleh karena itu, para hadirin jama’ah
jum’ah yang dimuliakan Allah, wajar bila para kyai dan ulama ikut menyepakati
dan menyetujui sebuah semboyan yang mendasari Pancasila yaitu Bhinneka Tunggal
Ika yang secara lughawi berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Allah swt
sendiri telah berfirman dalam surat an-Nahl ayat 93 yang bunyinya:
وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً
وَٰحِدَةً وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهْدِى مَن يَشَآءُ ۚ
وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Yang artinya:
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan
kamu satu umat (agama) saja, tetapi Allah menyesatkan siapa yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan
Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang Telah kamu kerjakan.
Imam Jalaluddin al-Mahalli dan
Jalaluddin al-Syuyuthi dalam tafsir Jalalain menjabarkan bahwa arti kata Ummatan
Wahidatan adalah Ahla dinin wahidin satu agama. Ini artinya bahwa
perbedaan agama dan perbedaan suku-bangsa merupakan sunnah Ilahi. Sebuah
kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, karena merupakan kehendak-Nya.
Maka dengan demikian para hadirin
Jamaah Jum’ah, janganlah kita memandang bahwa perbedaan adalah sebuah musibah,
akan tetapi pandanglah perbedaan sebagai sebuah ni’mat. Jika semua orang kaya,
kepada siapa zakat kita berikan, jika semua orang pintar kepada siapa kita
mengajar, jika semua orang ber-uang kepada siapa kita bersedekah? Dan jika
semua orang beriman kepada siapa kita berdakwah? Mari kita renungkan bersama.
Bukankah dengan demikian sebenarnya Allah memberikan peluang kepada kita untuk
banyak berbuat, Beribadah, berdakwah, saling mengingatkan karena yang demikian
itu banyak sekali pahala menanti. Karena itu ayat di atas diakhiri dengan
sebuah pernyataan yang bernada mengingatkan;
وَلَتُسْـَٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Yang artinya:
Sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang Telah
kamu kerjakan.
Nanti Allah akan bertanya kepada kita semua, apa yang telah kita perbuat dengan perbedaan itu. Apakah kita hanya diam, atau kita telah berbuat banyak, atau malah kita menyumpahi perbedaan itu dan menistakannya. Bukankah perbedaan itu disediakan oleh Allah swt sebagai ruang kita untuk berdakwah?
Nanti Allah akan bertanya kepada kita semua, apa yang telah kita perbuat dengan perbedaan itu. Apakah kita hanya diam, atau kita telah berbuat banyak, atau malah kita menyumpahi perbedaan itu dan menistakannya. Bukankah perbedaan itu disediakan oleh Allah swt sebagai ruang kita untuk berdakwah?
Para hadirin jama’ah jum’ah yang di
sayangi Allah...
Marilah kita renungkan bersama.
Berbagai kejadian yang ada di sekitar kita. Mulai dari persoalaan yang tampak
di dunia nyata maupun di media sosial. Janganlah kita memandang semua itu sebagai
sebuah masalah, tapi mari kita memandang itu semua sebagai sebuah peluang.
Peluang kita untuk berdakwah. Tentunya berdakwah dengan cara-cara yang luwes
seperti yang diserukan Allah kepada kita semua dalam surat an-Nahl 125:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ
ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ
أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
Yang artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan
Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara
yang baik. Sesungguhnya Allah Tuhan-mu lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk.
Mari kita bersama-sama merangkul dan
memberi pemahaman pada orang di sekitar kita agar memiliki pemahaman dan
wawasan yang baik. Jangan kita hardik dan musuhi mereka, namun ajak mereka
berdiskusi, kita sapa mereka, kita bujuk mereka untuk bersama-sama menampilkan
akhlak, perilaku yang terpuji.
Kepada umat yang berbeda keyakinan,
jangan kita bakar tempat ibadah mereka tapi, marilah kita rangkul mereka kita
ajak mereka menuju masjid yang indah dan penuh berkah seperti masjid ini.
Tentunya dengan cara yang baik pula. Jangan sampai dakwah kita mengoyak Bhineka
Tunggal Ika yang telah disepakati bersama oleh para kyai, ulama dan umara’.
Jangan sampai perbedaan yang penuh hikmah itu berubah menjadi musibah bagi
bangsa ini. Karena itu sama artinya kita telah tidak amanah menjaga titipan
nenek moyang kita yaitu ‘Indonesia’ dan secara otomatis menyia-nyiakan
kesempatan yang diberikan oleh Allah swt.
Para sidang jum’at rohimakumullah...
Para sidang jum’at rohimakumullah...
Inilah cita-cita Bhinneka Tunggal
Ika, dan juga semangat dasar dari persaudaraan. Pasalnya, pengalaman pahit
bangsa kita selama ini yang ditimpa berbagai konflik dan kerusuhan,
mengisyaratkan bahwa keragaman bangsa Indonesia, apabila tidak disikapi secara
jernih dan bijak, akan menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat.
Untuk itu, kaum muslimin sebagai umat
terbanyak di Indonesia, haruslah memberikan teladan dalam mewujudkan persatuan,
kesatuan dan kedamaian di tengah-tengah kemajemukan bangsa ini. Rujukan asasi
yang harus dipegangi adalah teladan Nabi Saw. sepanjang hayatnya. Pengalaman
Rasulullah saw. menunjukkan betapa bahayanya pencampuradukan antara kepentingan
politik dan isu-isu agama. Agama memang bukan faktor pemicu berbagai
peselisihan antarumat. Tetapi isu-isu agama sangat sensitif dan mudah tersulut.
Karena itu sejarah pernah mencatat pesan Nabi Muhammad saw kepada para sahabatnya bahwa jika suatu saat nanti umat Islam berhasil mencapai Mesir dalam futuhat kelak, yang harus diperhatikan adalah memperlakukan masyarakat Mesir dengan baik tanpa terkecuali. Sikap simpatik ini disampaikan Nabi Muhammad ketika menerima hadiah persahabatan dari Gubernur Mesir, Muqaiqis, yang notabene seorang non-muslim. Ramalan Nabi terbukti, dan Khalifah Umar ibn al-Khattab berpesan kepada Amr ibn Ash yang berhasil menguasai Mesir agar memperlakukan rakyat Mesir secara manusiawi.
Para jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah...
Karena itu sejarah pernah mencatat pesan Nabi Muhammad saw kepada para sahabatnya bahwa jika suatu saat nanti umat Islam berhasil mencapai Mesir dalam futuhat kelak, yang harus diperhatikan adalah memperlakukan masyarakat Mesir dengan baik tanpa terkecuali. Sikap simpatik ini disampaikan Nabi Muhammad ketika menerima hadiah persahabatan dari Gubernur Mesir, Muqaiqis, yang notabene seorang non-muslim. Ramalan Nabi terbukti, dan Khalifah Umar ibn al-Khattab berpesan kepada Amr ibn Ash yang berhasil menguasai Mesir agar memperlakukan rakyat Mesir secara manusiawi.
Para jama’ah jum’ah yang dimuliakan Allah...
Sekali lagi marilah dalam kesempatan
ini kita benar-benar memegangi ajaran dan dan sunnah Rasulullah saw. Semoga
Allah swt. senantiasa memberikan kepada kita petunjuk dan hidayahnya dalam
menjaga amanah bangsa dan memberikan kemampuan kepada kita untuk mengelola
perbedaan menjadi hikmah dan ni’mah. Amin.
بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ, وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
اَلْحَمْدُ
للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى
آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ
بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ
وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ
وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ
عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ
اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ
أَكْبَرُ.
PCLDNU CIlacap (SNH)
No comments:
Post a Comment